Rabu, 14 September 2011

Masa Awal Kemerdekaan

Dari berbagai sumber yang saya dapat, mengatakan pada masa awal kemerdekaan keadaan ekonomi di Indonesia ditandai dengan hiperinflasi akibat peredaran beberapa mata uang yang tidak terkendali, namun sementara Pemerintahan RI belum memiliki mata uang. Tapi pada masa itu ada tiga mata uang yang dinyatakan berlaku oleh pemerintahan RI pada tanggal 1 Oktober 1945, yaitu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda, dan mata uang De Javasche Bank...
Kurang lebihnya siih begini nih bentuknya ::




(Mata uang Hindia Belanda dan mata uang De Javasche bank)


Dan diantara ketiga mata uang tersebut terdapat mata uang yang nilai tukarnya mengalami penurunan tajam yaitu mata uang Jepang. Peredarannya mencapai empat milyar sehingga mata uang Jepang tersebut menjadi sumber hiperinflasi. Alhasil lapisan masyarakat yang paling menderita pada masa itu adalah petani, karena diantara lapsan masyarakat yang lain merekalah yang paling banyak menyimpan mata uang Jepang.
Huft (︶︹︺)

Beginilah Sample bentuk mata Uang Jepangnya...


Mata uang Jepang (Dai Nippon Teikoku Seihu)


Setelah itu kekacauan ekonomi akibat hiperinflasi diperparah oleh kebijakan Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) Letjen Sir Montagu Stopford yang pada 6 Maret 1946 yang mengumumkan pemberlakuan mata uang NICA di seluruh wilayah Indonesia yang telah diduduki oleh pasukan AFNEI. Kebijakan ini diprotes keras oleh pemerintah RI, karena melanggar persetujuan bahwa masing-masing pihak tidak boleh mengeluarkan mata uang baru selama belum adanya penyelesaian politik. Namun protes keras ini diabaikan oleh AFNEI. Dan mata uang NICA digunakan AFNEI untuk membiayai operasi-operasi militernya di Indonesia juga sekaligus mengacaukan perekonomian nasional, sehingga akan muncul krisis kepercayaan rakyat terhadap kemampuan pemerintah RI dalam mengatasi persoalan ekonomi nasional.

Karena protesnya tidak ditanggapi, maka pemerintah RI mengeluarkan kebijakan yang melarang seluruh rakyat Indonesia menggunakan mata uang NICA sebagai alat tukar. Langkah ini sangat penting karena peredaran mata uang NICA berada di luar kendali pemerintah RI, sehingga menyulitkan perbaikan ekonomi nasional.

Ni bentuknya


Mata Uang NICA

Dan oleh karena AFNEI tidak mencabut pemberlakuan mata uang NICA, maka pada tanggal 26 Oktober 1946 pemerintah RI memberlakukan mata uang baru ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai alat tukar yang sah di seluruh wilayah RI. Sejak saat itu mata uang Jepang, mata uang Hindia Belanda dan mata uang De Javasche Bank dinyatakan tidak berlaku lagi. Dengan demikian hanya ada dua mata uang yang berlaku yaitu ORI dan NICA. Masing-masing mata uang hanya diakui oleh yang mengeluarkannya. Jadi ORI hanya diakui oleh pemerintah RI dan mata uang NICA hanya diakui oleh AFNEI. Rakyat ternyata lebih banyak memberikan dukungan kepada ORI. Hal ini mempunyai dampak politik bahwa rakyat lebih berpihak kepada pemerintah RI dari pada pemerintah sementara NICA yang hanya didukung AFNEI. (ok banget kan? ^_^ )

Nah untuk mengatur nilai tukar ORI dengan valuta asing yang ada di Indonesia, pemerintah RI pada tanggal 1 November 1946 mengubah Yayasan Pusat Bank pimpinan Margono Djojohadikusumo menjadi Bank Negara Indonesia (BNI). Beberapa bulan sebelumnya pemerintah juga telah mengubah bank pemerintah pendudukan Jepang Shomin Ginko menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) danTyokin Kyoku menjadi Kantor Tabungan Pos (KTP) yang berubah nama pada Juni 1949 menjadi Bank tabungan Pos dan akhirnya di tahun 1950 menjadi Bank Tabungan Negara (BTN). Semua bank ini berfungsi sebagai bank umum yang dijalankan oleh pemerintah RI. Fungsi utamanya adalah menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat serta pemberi jasa di dalam lalu lintas pembayaran.

DAN SEPERTI INI LAH BENTUK ORI (Oeang Repoeblik Indonesia)      (*^ -^*)






Tapi ternyata ORI juga banyak terbitannya loh, tidak tanggung- tanggung, ORI diterbitkan sebanyak tiga kali, ada ORI I, ORI II, dan ORI III, tapi dari sumber yang saya dapat, mengatakan bahwa ada juga ORI IV.. Nah looh....
Hmmm... Tapi disini saya hanya bisa berbagai info tentang 3 ORI saja...he

Capcuuus yuuk...(~ ̄▽ ̄)~


1. ORI 1

ORI 1 pertama dikeluarkan dengan pecahan bernilai 1 sen, 5 sen, 10 sen, 1/2 rupiah, 1 rupiah, 5 rupiah, 10 rupiah, 100 rupiah pada tahun 1946 tepatnya pada 30 Oktober ditandatangani oleh A.A Maramis. Pada hari itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javasche Bank tidak berlaku lagi.Huhuhuhu...

O ya.. ORI pertama dicetak Percetakan Canisius dengan desain sederhana dengan dua warna...

Saya kasih contoh lagi nih ORI I ::






2. ORI 2 (Tahun 1947)

Kalau ORI II hanya mempunyai 4 pecahan, yaitu 5, 10, 25 dan 100 rupiah. Tiga diantaranya yaitu pecahan 5, 10 dan 100 rupiah yang mempunyai bentuk sama dengan ORI I. Hanya pecahan 25 rupiah saja yang berbeda. Semua pecahan bertanggal Djokjakarta 1 Djanuari 1947 dan ditandatangani oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara.
Uang-uang seri ini tidak mempunyai pengaman yang baik, hanya kualitas kertas dan rahasia pada kode kontrol nomor seri saja yang membedakan apakah uang ini asli atau palsu.

Nih ORI II ::



3. ORI 3 (Tahun 1947)

Yang terakhir, ORI III, nah Seri ORI III terdiri dari 7 jenis pecahan dari yang terkecil yaitu 1/2 rupiah sampai dengan yang terbesar yaitu 250 rupiah. Bertanggal Djokjakarta 26 Djuli 1947 dan ditandatangani oleh Mr. A.A. Maramis. Pada seri ini jugalah terdapat salah satu pecahan terlangka dari semua seri ORI yaitu pecahan 100 rupiah Maramis. Pecahan ini hanya bisa dikalahkan oleh pecahan 600 rupiah pada seri ORI IV.







Nah terakhir dari pada nanti ada yang penasaran dengan ORI IV saya tunjukkan gambarnya ajah ya... (◡‿◡✿)

Selasa, 13 September 2011

Jaman Kerajaan

Penasaran dengan sejarah Uang, lagi- lagi mulai iseng- iseng cari info dari berbagai sumber, ya dari mana ajahlah, yang penting rasa penasaran ilang... ◤(¬‿¬)◥


Dan nyatanya pada jaman Indonesia belum merdeka,  uang sudah mulai beredar... Wiihhh... (╯3╰)


Dan berikut ini adalah uang yang pernah beredar di Indonesia pada jaman kerajaan. (katanya) hehe





1. Uang Syailendra (850 M)
Mata uang ini dicetak sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal :
  • Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
  • Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
  • Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak


Tapi sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram). Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”. Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakangnya terdapatsyailendra.


Niiih gambarnya ::
Uang Syailendra





















2. Uang Krishnala, Kerajaan Jenggala (1042-1130 M)
Nah pada zaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.
Pada waktu itu uang kepeng Cina datang begitu besar, sehingga saking banyaknya jumlah yang beredar, akhirnya dipakai secara “resmi” sebagai alat pembayaran, menggantikan secara total fungsi dari mata uang lokal emas dan perak.

Dan ini gambaarnya ::




Uang Krishnal









3. Uang “Ma”, (Abad ke-12)
Nah Uang "MA" adalah Mata uang Jawa dari emas dan perak yang ditemukan kembali, termasuk di situs kota Majapahit, kebanyakan berupa uang “Ma”, (singkatan dari māsa) dalam huruf Nagari atau Siddham, kadang kala dalam huruf Jawa Kuno. Di samping itu beredar juga mata uang emas dan perak dengan satuan tahil, yang ditemukan kembali berupa uang emas dengan tulisan ta dalam huruf Nagari. Kedua jenis mata uang tersebut memiliki berat yang sama, yaitu antara 2,4 – 2,5 gram.
Selain itu masih ada beberapa mata uang emas dan perak berbentuk segiempat, ½ atau ¼ lingkaran, trapesium, segitiga, bahkan tak beraturan sama sekali. Uang ini terkesan dibuat apa adanya, berupa potongan-potongan logam kasar. 
kenapa begitu?? 
hmm... ni bukannya orang-orang jaman dulu pada males untuk mendesign uang sendiri ya? 
tapi yang dipentingkan di sini adalah sekedar cap yang menunjukkan benda itu dapat digunakan sebagai alat tukar. 
Tanda tera atau cap pada uang-uang tersebut berupa gambar sebuah jambangan dan tiga tangkai tumbuhan atau kuncup bunga (teratai) dalam bidang lingkaran atau segiempat. 
Jika dikaitkan dengan kronik Cina dari zaman Dinasti Song (960 – 1279) yang memberitakan bahwa di Jawa orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, mungkin itu maksudnya Uang "MA" kali ya??


Nihh gambarnya ::
Uang Ma

















4. Uang Gobog Wayang, Kerajaan Majapahit (Abad k-13)
Sekarang kita masuk ke zamannya Majapahit. Pada Zaman Majapahit dikenal koin-koin yang disebut “Gobog Wayang”, dimana untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Thomas Raffles, dalam bukunya The History of Java. 
Bentuknya bulat dengan lubang tengah karena pengaruh dari koin cash dari Cina, ataupun koin-koin serupa yang berasal dari Cina atau Jepang. Koin gobog wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Sebenarnya koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut sebagai koin-koin kuil. 


Niih Gambarnya ::
 Uang Gobog Wayang
















5. Uang Dirham, Kerajaan Samudra Pasai (1297 M)
Di Zaman Samudra Pasai untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.
Uang Dirham












6. Uang Kampua, Kerajaan Buton (Abad ke-14)
Pada Zaman kerajaan Buton ada uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua (kampuaa nan jauh dimatoo...) hehehe
eitz... jadi nyanyii deeh... (●*∩_∩*)
Seriuus lagi ach....
Nih ya Uang Kampua emang unik, uang dengan bahan kain tenun ini merupakan satu-satunya yang pernah beredar di Indonesia. Menurut cerita rakyat Buton, Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintah sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan mengambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan,para pedagang memberikan suatu upeti yang ditaruh diatas makam tersebut,yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton,bahkan sampai dengan tahun 1940.


kalo ga percaya dengan uniknya uang  KAMPUA, nih eike kasih gambarnya::
Uang Kampua











Uuuniiikkan?? (◕‿-)



7. Uang Kasha Banten, Kesultanan Banten (Abad ke-15)
Saatnya mendarat di zaman kesultanan Banten. 
Mata uang dari Kesultanan banten pertama kali dibuat sekitar 1550-1596 Masehi. Bentuk koin Banten mengambil pola dari koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khasnya 6 segi pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi pada bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa: “Pangeran Ratu”. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”. Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada akhir-akhir ini.
Dan  gambar ini yang dapat saya tampilkan. kalo diliat-liat sepertinya ini uang yang menggunakan bahasa jawa... (Betul gag yaa ?? (¬▂¬)   )
 Uang Kasha Banten














8. Uang Jinggara, Kerajaan Gowa (Abad ke-16)
Dari Banten kita terbang jauh ke Sulawesi, Nah Sulawesinya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, disana pernah berdiri kerajaan Gowa dan Buton. Dan kerajaan Gowa pernah mengedarkan mata uang dan emas yang disebut jingara, salah satunya dikeluarkan atas nama Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang memerintah dalam tahun 1653-1669. Di samping itu beredar juga uang dan bahan campuran timah dan tembaga, disebut kupa.

Kurang lebihnya seperti ini bentuknya ::
Uang Jinggara










9. Uang Picis,  (1710 M)
Uang Picis... Dari namanya dapat ditebak kalo uang ini berasal dari daerah yang ada nama ci-ci'nya... 
(︶︿︶)  #gag ngaruuh atuuh ya?? hehehe


Dan ternyata Uang ini emang berasal dari Daerah yang menggunakan Ci- didepan namanya, yaitu Cirebon...  
Hahay Ternyata saya benar juga


~( ̄▽ ̄~) Huhuhuhu (~ ̄▽ ̄)~




Hmm.. hmm.. balik lagi ke topik...!! 


Saat itu sultan yang memerintah kerajaan Cirebon pernah mengedarkan mata uang yang pembuatannya dipercayakan kepada seorang Cina. Uang timah yang amat tipis dan mudah pecah ini berlubang segi empat atau bundar di tengahnya, disebut picis, dibuat sekitar abad ke-17. Sekeliling lubang ada tulisan Cina atau tulisan berhuruf Latin berbunyi CHERIBON.


Niih Bentuknya ::


 Uang Picis



Dan Saudara... Seperti itu lah kurang lebihnya penjelajahan kita tentang uang yang pernah beredar di Indonesia pada jaman kerajaan...
Sebenarnya kalau mau dicari lebih jauh, masih banyak model uang pada jaman kerajaan-kerajaan, tapi hanya sampai disini sajalah saya bisa menemani penjelajahan anda... hehee
.
.
.
Jangan sediiih... (◕‿◕✿)